JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi ditunjuk sebagai calon pelaksana Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) untuk wilayah panas bumi Cubadak Panti. Penunjukan ini terjadi setelah PGEO memenangkan proses seleksi kompetitif yang digelar oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
PGEO menempati peringkat pertama dengan nilai penilaian 87,01 dan kini bersiap melaksanakan ketentuan administratif yang berlaku. Langkah ini menegaskan posisi perusahaan sebagai pemain utama dalam pengembangan energi panas bumi nasional.
Wilayah PSPE Cubadak Panti terletak di Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat, Provinsi Sumatra Barat. Area yang akan ditangani PGEO mencakup luas 29.897 hektare, menjadikannya salah satu wilayah panas bumi strategis di Indonesia.
Berdasarkan data awal, wilayah ini diperkirakan memiliki cadangan potensial sebesar 77 megawatt electric (MWe). Potensi ini menjadi tambahan penting bagi portofolio PGEO yang saat ini sudah mengelola sekitar 3 gigawatt (GW) kapasitas panas bumi.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, menegaskan komitmen perusahaan untuk mengoptimalkan potensi panas bumi. Ia berharap manfaat dari proyek ini dapat dirasakan luas oleh masyarakat dan sektor industri.
Penugasan ini juga memperkuat kontribusi PGEO terhadap target pemerintah dalam transisi energi. Proyek ini diharapkan mendukung dekarbonisasi nasional sekaligus meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.
Pemilihan PGEO mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 36 Tahun 2017. Peraturan ini mengatur tata cara penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi panas bumi serta prosedur seleksi PSPE.
Sebagai pionir pengembangan panas bumi di Indonesia, PGEO memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun. Saat ini, perusahaan mengelola enam wilayah operasi dengan total kapasitas terpasang 727 megawatt (MW).
Proyek Strategis dan Pengembangan Kapasitas Panas Bumi
PGEO terus mengembangkan proyek strategis untuk memperluas portofolio panas bumi nasional. Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Hululais Unit 1 & 2 dengan kapasitas total 110 MW.
Selain itu, PGEO juga tengah mengembangkan proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW. Proyek ini dirancang untuk mendukung diversifikasi energi dan memperkuat swasembada energi nasional.
Perusahaan juga mempersiapkan pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW. Unit ini ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada 2030, menambah kapasitas listrik terbarukan di Sumatra Barat.
Proyek-proyek ini merupakan bagian dari strategi PGEO untuk memperkuat kontribusi energi bersih di Indonesia. Selain mendukung target kapasitas, inisiatif ini sejalan dengan komitmen pemerintah mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Edwil menekankan, pengembangan panas bumi tidak hanya bertujuan untuk produksi listrik. PGEO juga fokus pada peningkatan kualitas lingkungan dan efisiensi operasional dalam setiap proyeknya.
Pengalaman panjang PGEO dalam mengelola enam wilayah operasi memberi keunggulan teknis. Hal ini membuat perusahaan mampu menjalankan proyek baru dengan risiko lebih rendah dan kinerja optimal.
Keunggulan ini juga menarik minat investor dan mitra strategis. Dukungan modal dan teknologi asing akan mempercepat pengembangan wilayah panas bumi baru seperti Cubadak Panti.
Selain itu, proyek ini menjadi bukti nyata dukungan PGEO terhadap kebijakan energi nasional. Perusahaan menegaskan perannya dalam menyediakan energi terbarukan yang handal dan berkelanjutan.
Kontribusi PGEO terhadap Transisi Energi dan Dekarbonisasi
Penugasan di Cubadak Panti merupakan langkah strategis PGEO dalam mendukung transisi energi nasional. Proyek ini selaras dengan program pemerintah untuk meningkatkan bauran energi terbarukan.
Dengan proyek ini, PGEO menegaskan posisinya sebagai pemimpin dalam sektor panas bumi. Hal ini sekaligus memperkuat komitmen perusahaan terhadap dekarbonisasi nasional.
PGEO juga berperan dalam memperluas kapasitas panas bumi di luar wilayah kerja eksisting. Dukungan ini menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mencapai target energi bersih dalam beberapa dekade mendatang.
Edwil menambahkan, pengembangan proyek panas bumi meningkatkan ketahanan energi nasional. Energi terbarukan seperti panas bumi diyakini lebih stabil dan berkelanjutan dibanding sumber energi fosil.
PGEO berupaya memastikan setiap proyek memenuhi standar operasional dan lingkungan. Proses ini mencakup survei pendahuluan, eksplorasi, hingga pembangunan pembangkit listrik dengan teknologi ramah lingkungan.
Investasi dalam teknologi modern dan pengelolaan sumber daya manusia menjadi fokus utama PGEO. Hal ini memastikan perusahaan mampu memaksimalkan potensi energi panas bumi di berbagai wilayah.
Dengan tambahan kapasitas di Cubadak Panti, PGEO memperluas kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan listrik nasional. Energi yang dihasilkan akan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.
Selain itu, proyek ini juga membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kemampuan teknis tenaga kerja lokal. Pengembangan kapasitas manusia menjadi bagian dari strategi PGEO untuk memastikan keberlanjutan proyek jangka panjang.
Keberhasilan PGEO dalam proyek ini diharapkan menjadi model bagi pengembangan panas bumi lainnya di Indonesia. Strategi ini sekaligus menunjukkan kesiapan perusahaan dalam menjawab tantangan transisi energi global.
Proyek Cubadak Panti menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dan perusahaan BUMN. Kolaborasi ini penting untuk mempercepat pemanfaatan energi bersih serta mendukung target Net Zero Emission 2060.
PGEO menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat posisi Indonesia di sektor panas bumi. Penugasan di Cubadak Panti, bersama dengan proyek strategis lain, menegaskan peran perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional dan dekarbonisasi.
Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, kapasitas operasional yang besar, dan kepemimpinan teknis yang mumpuni, PGEO siap menjadi pionir pengembangan panas bumi yang berkelanjutan. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan bauran energi terbarukan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan perekonomian nasional.